Sejarah Singkat Kaligrafi Islam Published on 16 September, 2017 in Kaligrafi Last updated on October 4th, 2017 01:10 pm
Kaligrafi adalah seni menuliskan teks ke dalam bentuk lukisan menggunakan pena, kuas, atau alat tulis lainnya ke media tertentu. Awalnya kaligrafi dituangkan ke media kertas papyrus, namun seiring dengan perkembangan waktu, media kaligrafi juga ditemukan di media lainnya yang lebih bervariasi seperti batu, dinding, koin, sutra, kertas kanvas, perhiasan, plat kuningan, kaca, keramik, dan lainnya. Bagi Muslim, kemampuan menulis—dalam arti luas –merupakan pembeda antara manusia dengan hewan, menulis merupakan wujud dari kecerdasan tertinggi manusia. Bapak hukum internasional Islam, Ibrahim ash-Shaybani, mengatakan tulisan adalah “bahasa tangan, idiom pikiran, ambassador akal, otoritas tertinggi pemikiran, senjata pengetahuan, dan sahabat terbaik bagi keimanan diantara jurang waktu.”[1]
Abad ke-16 adalah permulaan dari seni kaligrafi Islam menjadi bentuk risalah, di mana gaya-gaya dalam kaligrafi sudah menemukan formulasi bakunya. Al-Quran dan puisi-puisi Islam dituangkan secara massif dituangkan ke dalam bentuk kaligrafi dengan kekhasan gaya kaligrafi dari berbagai aliran. Semenjak itu seni kaligrafi telah memainkan peran penting bagi perkembangan kebudayaan Islam. Seni kaligrafi Islam boleh dibilang memiliki lingkup tidak terbatas, variasi serta aplikasi pemakaiannya bisa dituangkan ke media seni tulis apapun. Maka tidak mengherankan, bukan hanya dunia Islam saja yang menggunakan kaligrafi dengan teks Arab, dunia barat pun terpengaruh oleh kaligrafi Islam.[2]
Teknik menulis kaligrafi bukanlah sesuatu yang asal-asalan, ada alasan tertentu dibalik setiap teknik, ada geometri yang akurat, ada kaidah-kaidah ketat di dalamnya, ada kesepakatan tidak tertulis diantara para seniman kaligrafi: seindah, sevariatif, serumit apapun kaligrafi, jangan sampai mengubah makna dan teks asli Alquran. Bahkan di awal perkembangan pencatatan Alquran ke dalam media tulis, kaligrafi difungsikan sebagai alat bantu untuk membaca Al-quran agar tidak salah ucap yang bisa mengakibatkan perubahan makna. Diantara sumbangan kaligrafi untuk pencatatan Alquran adalah munculnya tanda baca dan pewarnaan tertentu supaya orang tidak salah dalam membaca Alquran. Kaligrafi untuk tujuan pencatatan Al-Quran pertama kali dibuat di masa kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan (685-705).[3]
Al-Quran di masa dinasti Umayyah, sebelum tahun 725[4] (Museum of
Turkish and Islamic Arts, Istanbul}
Pada abad ke-7, yaitu pada masa awal pencatatan Al-quran, muncul istilah “Kufic”, yaitu gaya kaligrafi pertama yang digunakan untuk mencatat Al-quran, gaya tersebut dikembangkan di kota Kufa, salah satu kota di Iraq. Oleh karena itulah disebut Kufic, diambil dari kata “Kufa”. Namun sebenarnya dari manakah asal usul munculnya Alphabet Arab? Alphabet Arab yang digunakan di dalam Al-Quran sulit dilacak dari mana asal usulnya, namun legenda mengatakan bahwa penemu Alphabet Arab adalah Nabi Idris, konon Alphabet ini tidak memiliki garis melengkung sebagaimana Alphabet Arab yang kita ketahui hari ini. Namun terlepas dari hal tersebut, seniman Kufic pada masa itu mengatakan bahwa seniman kaligrafi Islam yang pertama adalah Ali Bin Abi Thalib, beliau adalah penemu pertama gaya kufic. Beliau adalah master kaligrafi yang pertama. Bahkan seniman kufic ternama, Sultan Ali Mashhadi, salah satu master gaya Nasta’liq Persia mengatakan “kemasyuran karyaku adalah haknya Ali“. Pernyataan bahwa Ali Bin Abi Thalib adalah kaligrafer Islam yang pertama dapat dilacak dari karya Ali yang khas, yakni cara penulisan Alphabet Arab dengan 1/6 garis melengkung dan 5/6 garis lurus , atau dengan definisi lain “lengkungan kecil di awal huruf“, sebagaimana dapat dilihat dari huruf alif karya Ali bin Abi Thalib[5] di bawah ini:
KEPALA ALIF BERCABANG KARYA ALI BIN ABI THALIB
Gaya menulis kaligrafi memiliki koneksi yang kuat dengan politik dan kebudayaan pada saat gaya tersebut diciptakan. Walaupun demikian, belum tentu seniman penciptanya mendukung penguasa pada saat itu, namun gaya kaligrafi minimal dapat digunakan sebagai alat identifikasi perjalanan sejarah Islam, misalnya saja gaya Mushaf Al-Hadina diciptakan pada saat dinasti Zirid berkuasa. Di tempat lain, ada Al-Quran mushaf Ibnu Al Bawwab (wafat 1022) yang hidup di masa dinasti Buyid. Di masa selanjutnya ada nama Mir Ali Tabrizi (wafat 1420), dan Mir Ali Harafi (1506-1544), yang termasyur dengan gaya Nasta’lic, atau juga dikenal dengan gaya Persia, mereka di masa dinasti Shaybanid. Gaya-gaya tersebut bermigrasi ke daerah lain, dan mempengaruhi atau saling mempengaruhi di daerah baru, kemudian seiring berjalannya waktu muncul penguasa baru, dan ada gaya baru kaligrafi pula yang melekat dengan penguasa tersebut. [6]
Mushaf Al-Hadina (Purchase, James and Diane Burke Gift, in honor of Dr. Marilyn
Jenkins-Madina, 2007)[7]
AL-QURAN KARYA IBNU AL BAWWAB
Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/sejarah-singkat-kaligrafi-islam/
Tidak ada komentar: